Siang itu, suasana di Kawasan Wisata Alam Bantimurung tampak berbeda. Puluhan pasang mata menanti kedatangan tamu istimewa, Wakil Menteri Kehutanan RI, dr. Sulaiman Umar Sidiq. Kehadiran beliau bukan sekadar kunjungan kerja biasa, tapi juga accarita Siagang Wamenhut—sebuah ruang untuk berbagi cerita, gagasan, sekaligus harapan bagi masa depan kawasan yang dijuluki The Kingdom of Butterfly.

Bersama rombongannya, Wamenhut didampingi Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung berjalan kaki menyusuri jalur kawasan menuju dermaga kano, sembari meninjau berbagai objek

dan fasilitas yang ada di Kawasan Wisata Alam Bantimurung. Langkah-langkah sederhana itu seolah menjadi simbol kedekatan seorang pejabat dengan alam yang ia kunjungi.
Sejak lama, Bantimurung dikenal sebagai rumah bagi ratusan jenis kupu-kupu. Catatan sejarah menyebutkan, pada tahun 1857 baru teridentifikasi 139 jenis kupu-kupu (Eksplorasi Literasi Bantimurung Bulusaraung 1745-1942, Hlm. 21) , kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 285 jenis kupu-kupu Papilionoidea. Tak heran, kawasan ini jadi magnet bagi wisatawan maupun peneliti dari berbagai negara
Wamenhut sendiri punya kisah pribadi. Ia mengenang kunjungannya ke Bantimurung di masa lalu, lalu membandingkan perubahan signifikan yang kini terlihat. “Bantimurung semakin cantik, infrastrukturnya lebih baik, dan pantas menjadi destinasi percontohan. Tapi jangan lupa, yang utama tetap kupu-kupu dan alamnya. Itu yang harus kita jaga,” ujarnya.

Namun, bukan berarti perjalanan menjaga Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tanpa tantangan. Deforestasi, lahan kritis, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan menjadi pekerjaan rumah bersama. Wamenhut menyebutkan ada sekitar 14 ribu hektare lahan di Sulawesi Selatan yang terdeforestasi dan 11 ribu hektare lahan kritis yang butuh segera direhabilitasi. Solusinya tidak bisa parsial: ada penanaman serentak, penegakan hukum, hingga kolaborasi lintas pihak.

Di sisi lain, masyarakat lokal juga punya peran penting. Risman, seorang pemandu wisata, bercerita bagaimana keberadaan TN Babul memberi manfaat langsung bagi 38 pemandu lokal yang kini lebih terampil dan percaya diri. “Kalau datang ke Bantimurung, jangan lupa pakai guide lokal. Tanpa itu, ibarat orang buta kehilangan tongkat,” katanya sambil tersenyum.

Kepala Balai TN Babul, T. Heri Wibowo, menambahkan bahwa pengelolaan kawasan ini tak hanya soal menjaga hutan dan satwa, tapi juga soal kenyamanan pengunjung. Penataan pedagang, kebersihan kawasan, hingga peningkatan fasilitas keselamatan menjadi bagian dari PR besar. Dengan semangat Ballaku, Ballanu, Ballatangaseng, pengelolaan TN Babul ingin terus memberi manfaat bagi alam dan manusia.
Di penghujung acara Accarita Siagang, Wamenhut menutup kunjungannya dengan sebuah simbol harapan. Ia menanam bibit pohon Eboni di Kawasan Wisata Alam Bantimurung. Tangan yang menanam itu seakan menjadi pesan bahwa menjaga hutan bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat aksi nyata untuk generasi mendatang.
Penulis : Risky Amaliyah, S.I.Kom – Pranata Humas Pertama